Meraih Kasih Tuhan Menurut Petunjuk Weda
Tuhan maha besar tak terhingga. Di alam semesta ini tak ada yang lebih besar daripada beliau. Tetapi weda mengatakan bahwa kekuatan yang maha besar itu akan dapat di kurung di dalam hati dengan pengembangan cinta kasih.
Cinta kasih dapat kita kembangkan dengan mengembangkan dua sifat utama yaitu;
- abhyasa yaitu pengamalan secara terus-menerus, dan
- wairagya yaitu pengunduran diri atau ketidak terikatan.
Pengamalan merupakan gabungan dari tiga jenis tapa atau mati raga, yaitu;
- tapa mental
- tapa ucapan, dan
- tapa jasmani.
Pengunduran diri berarti mengenal cacat cela benda, dan hidup tanpa keterikatan pada benda-benda itu, dengan kata lain hidup sebagai saksi.
Jika kita dapat menggabungkan kedua sifat penting ini abyasa dan wairagya dalam hidup kita, maka pengalaman sepiritual lainnya tidak akan diperlukan lagi.
Mengembangkan kedua sifat ini akan lebih baik jika dimulai sejak kanak-kanak dan menggunakan hidup pada masa muda dengan cara yang suci dan mulia.
Dewasa ini orang baru melaksanakan kegiatan sepiritual setelah mencapai usia tua. Setelah mereka sepenuhnya menikmati benda-benda yang mewah, dan setelah muak dan bosan dengan semua kesenangan duniawi, barulah mereka mempertimbangkan untuk menempuh jalan spiritual.
Setelah melewatkan hidup mereka dengan perkiraan bahwa ada kebahagiaan yang sejati pada objek-objek indera, pada kehidupan keluarga, pada anak-anak, pada harta kekayaan, dan pada nama serta kemasyuran, mereka akan mengalami kekecewaan pada hari tua mereka.
Mereka akan menyadari bahwa tidak ada kebenaran pada benda-benda ini dan kedamaian batin serta kebahagiaan abadi tidak datang dari dunia yang kasat mata atau dari usaha mengejar objek-objek duniawi.
Maka setelah dihantui oleh kekosongan pengalaman mereka dan senja kehidupan mulai menjelang, mereka mulai melakukan kegiatan spiritual.
Tetapi, pada masa tua bila kita menderita segala macam kelemahan fisik dan mental, dan mempunyai segala macam keterbatasan, akan sulit sekali melaksanakan dan menempuh kehidupan sepiritual yang berat.
Sekalipun demikian kita tidak perlu berkecil hati karena mengira bahwa tidak ada jalan untuk kemajuan spiritual bagi orang lanjut usia. Beberapa peluang dan kesempatan akan timbul bagi yang lanjut usia.
Daripada sama sekali tdak memikirkan Tuhan selama dalam hidup, lebih baik memikirkan beliau setidak-tidaknya pada masa tua. Tidak ada pembatasan apapun mengenai waktu, tempat, atau umur untuk mengingat Tuhan. Oleh sebab itu Guru ilahi telah mengatakan dalam Gita,
“Setiap saat, di manapun juga, ingatlah kepada-Ku.”
Tetapi Gita juga telah mengatakan bahwa kesempatan yang paling baik untuk pengamalan spiritual dengan sungguh-sungguh adalah pada waktu dari usia muda. Semasa badan kita masih sehat, alat-alat indera kita masih kuat, dan kemampuan mental kita masih besar, itulah saat yang palig baik untuk melakukan latihan-latihan spiritual.
Kebanyakan pemuda tidak berusaha menggunakan kemampuannya untuk membeda-bedakan dengan baik. Anak muda tidak menggunakan kemampuan budhinya untuk mengetahui siapa teman mereka yang sejati, dan siapa musuh, siapa guru mereka, dan siapa pengikutnya, siapa sutradara dan siapa pemain.
Bila kita membina akal budhi kita untuk memahami arti kehidupan, bila kita menghayati kwalitas manusia dengan baik dan mengerti makna serta pentingnya kehidupan manusia, maka indera kita tidak akan membuat kita kebingungan.
Sekarang ini kita memakai Tuhan untuk kepentingan jasmani kita. Kita tidak menggunakan badan kita untuk memuja Tuhan. Sekarang kita memanfaatkan Tuhan untuk sembahyang memohon kesehatan bila sedang sakit dan untuk cara-cara lain untuk menguatkan badan.
Sebaliknya kita tidak menggunakan badan dan seluruh kemampuan dan kemampuan fisik yang kita miliki untuk memuja Tuhan. Kita membayangkan kelak akan ada banyak waktu untuk sembahyang sehingga kita terus menyia-nyiakan waktu.
Kita mengira setelah pensiun kita bisa merenungkan Tuhan. Dan melakukan latihan spiritual. Barangkali kita mengira sementara ini lebih baik menikmati hidup dan menikmati hal-hal keduniawian, mumpung masih muda. Tetapi bagaimana mungkin kita mulai berpikir soal Tuhan setelah kita tua, sesudah segala kemampuan kita lenyap ?
Bila sekarang kita tidak menggunakan seluruh kemampuan untuk memuja Tuhan , maka kelak kita akan sangat terlambat. Semasa muda kita harus mengumpulkan segala hal yang diperlukan untuk membangun landasan yang kokoh guna masa depan yang bahagia. Apakah kita beranggapan bahwa mengingat Tuhan mungkin dilakukan setelah pensiun ? Tidak, tidak mungkin.
Kita harus melakukan sadhana dengan sungguh-sungguh sebelum lanjut usia. Sebaliknya, setelah pensiun kita bahkan menyibukkan diri dalam bisnis, membuang-buang waktu pergi ke klub-klub dan dengan berbagai cara kita menghamburkan serta menyia-nyiakan hidup kita yang berharga.
Waktu tidak akan menunggu siapapun. Karena itu semasa kita masih mempunyai waktu kita harus menggunakan waktu kita itu degan sebaik-baiknya.
Musuh yang disebut kematian, beserta balatentara yang disebut penyakit, selalu siap menyerang badan kita. Manusia mati dalam keadaan yang sangat menyedihkan dan tak berdaya pada saat ia diserang penyakit dan kematian.
Tetapi tidak ada laskar yang menyerang mereka yang dikasihi Tuhan. Karena itu, semasa muda kita harus berusaha memperoleh rahmat Tuhan dan menyiapkan diri kita untuk menghadapi tantangan musuh bila mereka datang hendak mengepung dan menyerang kita.
Terutama kita harus memiliki keyakinan yang kokoh bahwa perjalanan hidup ini sangat panjang. Perjalanan lain, apakah dengan bus, kereta, atau pesawat terbang tidak berlangsung lama. Tetapi perjalanan hidup ini sangat lama.
Orang yang tidak mempersiapkan dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan dalam perjalanan yang panjang itu akan sangat menderita bila ia dihadapkan dengan masalah dan yang kesulitan yang nyata.
Kita semua mengetahui bahwa dalam gerbong kereta api yang digunakan untuk mengangkut barang biasanya ada catatan kapan gerbong itu harus kembali ke depot. Setelah menggunakan gerbong selama waktu tertentu, kendaraan itu harus dikembalikan pada waktu yang telah ditetapkan.
Badan kita sama dengan gerbong itu. Di sinipun tanggal kapan harus kembali telah dicatat oleh tuhan sendiri, namun kita tidak menyadarinya.
Kita tidak tahu bahwa kita harus kembali. Orang-orang lupa sama sekali akan kebenaran yang amat penting ini. Bila kita benar-benar ingin menikmati kebahagiaan hidup setelah lanjut usia, maka pada masa muda kita harus berusaha mendapatkan rahmat Tuhan.
Dalam hidup manusia , masa kanak-kanak dan masa muda sangat penting. Tanpa menyadari betapa tinggi nilai masa ini kita akan membuang-buang waktu pada masa muda. Ibarat kita menggunakan mangkuk emas berhiaskan permata dan berlian untuk sesuatu yang tidak berarti.
Untuk menyalakan api nafsu kita memakai kayu cendana yang amat mahal harganya. Periuknya sangat mahal, bahan bakarnya juga sangat mahal, tetapi makanan yang kita masak dengan alat-alat yang begitu mahal hambar dan tidak berharga.
Badan yang demikian berharga dan bahan bakar yang demikian suci dihambur-hamburkan untuk menikmati hal-hal yang remeh, tidak berguna dan tidak berarti dalam hidup.
Barang-barang yang tak berharga disimpan dalam kotak yang berharga dan digunakan untuk kenikmatan hidup.
Sama saja dengan kita menggunakan bajak emas untuk membajak ladang hati kita dan hasilnya tidak lain hanyalah rumput-rumputan yang tidak berguna.
Ladang hati kita sangat berharga dan suci. Guru ilahi telah menyatakan bahwa ladang itupun adalah milik-Nya. Tuhan mengatakan bahwa beliau adalah kedua-duanya: ladang dan pemilknya.
Beliau pemilik sejati hati dan badan kita. Beliau mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita. Apa yang kita lakukan dengan hati dan badan yang suci ini ?
Kita membajak ladang dengan bajak emas untuk menanam tanaman yang tidak berguna yaitu hawa nafsu. Orang yang menyadari kemuliaan hati dan kemuliaan perasaan tidak akan menyalahgunakan hati dan badan yang suci ini.
Hidup harus dimanfaatkan untuk kebaikan, untuk kasejahtraan lingkungan dan sesama manusia, untuk mencapai tujuan yang suci, dan untuk menghasilkan cahaya yang cemerlang dalam hati dan pikiran kita.
Kita harus menggunakan hidup ini untuk menunggal dengan Tuhan. Hanya dengan demikian kita berhak berkata bahwa hidup kita telah disucikan dan murni.
Dikatakan bahwa sangat sulit dan hampir tidak mungkin mendapat kehidupan sebagai manusia.
Apakah keistimewaan hidup manusia itu ? Mengapa demikian sulit mendapatkannya ?
Segala kesenangan yang dinikmati oleh binatang dan tumbuh-tumbuhan dapat juga kita nikmati. Bahkan tumbuh-tumbuhan dan binatang itupun dapat juga dinikmati oleh manusia.
Sehubungan dengan ini , mengapa dinyatakan bahwa hidup sebagai manusia itu sangat berharga dan sangat istimewa ?
Karena kita memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang baik dan yang buruk. Karena kita memiliki kemampuan untuk melenyapkan keterikatan dan kebencian.
Sebab itu kita harus menggunakan akal budi yang telah dianugrahkan kepada kita untuk membedakan antara cara hidup seperti binatang dan hidup sebagai manusia.
Tanpa membedakan antara atma dan anatma, diri sejati dan yang bukan diri sejati, tanpa mengembangkan yoga akal budhi, kita akan menjadi korban hasutan. Kita tidak akan dapat menemukan kedamaian batin karena kita tidak mengikuti jalan yang benar.
Dengan kemauan yang keras kaum muda harus melakukan ketiga macam tapa, yaitu;
- tapa mental,
- tapa vokal, dan
- tapa fisik
Sangat tidak mungkin menghayati satwa guna selama hati kita masih terisi oleh rajo guna dan tamo guna.
Bila kepala kita kosong kita dapat mengisinya dengan pikiran-pikiran yang baik, namun bila kepala sudah terisi penuh dengan segala macam pikiran yang tidak berguna, bagaimana mungkin mengisinya dengan sesuatu yang suci dan agung ?
Kita telah mengisi kepala kita dengan segala hal duniawi. Pertama kita harus membuang semua itu dan mengosongkan kepala kita. Kemudian kita dapat mengisinya dengan perasaan dan pikiran yang suci.
Banyak di antara kita mengikuti jalan yang tidak berarti dan menempuh jalan hidup yang tidak berarti.
- Ketika lahir kita menangis, dan
- kita menangis ketika ajal menjelang.
- Di antara kedua saat itu kita menangis untuk hal-hal yang tidak berguna.
Untuk itulah kita harus menangis, untuk itulah kita harus menggunakan kemampuan yang kita miliki untuk memperbaiki kemerosotan dharma dan membantu menyembuhkan luka-luka akibat merosotnya dharma.
Apakah dharma itu ?
Dharma adalah selalu mengingat dan merenungkan Tuhan dengan tiada putusnya.
Dharma adalah melakukan tugas sehari-hari sambil selalu ingat pada Tuhan.
Weda tidak mengajarkan bahwa kita harus meninggalkan keluarga kita, bahwa kita harus meninggalkan kekayaan dan harta benda, dan kemudian pergi ke hutan.
Tidak !
Uruslah keluarga kita. Kerjakan tugas kita. Tetapi pusatkan pikiran kita selalu kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Apapun yang kita lakukan jangan melupakan tujuan kita. Jika kita melupakannya kita akan tersesat dan menyimpang ke jalan yang tidak benar.
Tujuan Ilahi kita harus diukir dalam pikiran kita. Dengan selalu ingat akan tujuan, kita dapat melakukan tugas kita sehari-hari dengan benar.
Usahakan jangan ada cacat dan cela dalam perkataan kita. Kita harus selalu berusaha berpikir yang benar, berkata yang benar, dan berbuat yang benar.
Bahwa beberapa orang berpikir bahwa dalam kesulitan mereka bisa mengubah kebenaran. Bahkan kadang kala mereka merasa perlu berbohong.
Tetapi dalam situasi yang sulit cukup bijaksana bila kita bersikap diam, tidak berkata jujur atau bohong.
Jika kita berkata yang sebenarnya, katakanlah hal itu dengan halus dan lemah lembut.
Jangan berkata yang sebenarnya dengan cara yang tidak simpatik, atau berbohong dengan cara simpatik.
Jika menghadapi masa yang sulit dan merupakan cobaan, kita harus belajar menghindari situasi yang mencurigakan tanpa berbohong. Dalam keadaan tertentu kita harus bersikap sangat hati-hati. Kita harus belajar bagaimana berbicara tanpa harus menyakiti hati orang.
Dikatakan bahwa, “Orang yang beruntung adalah orang yang tahu bagaimana berbicara tanpa menyakiti hati orang lain.” Janganlah menyakiti orang lain, jangan pula sampai kita disakiti orang lain.
Bila kita mendengarkan suatu pelajaran spiritual pada suatu hari tertentu, kita akan melaksanakannya dengan keyakinan dan kemauan yang kuat. Tetapi hanya untuk hari itu saja, cara ini bukan cara yang benar untuk mengikuti pelajaran spiritual.
Kita harus menggunakan akal budhi kita untuk bisa mengerti suasana tempat kita berada, sebelum kita menggunakan kata-kata dalam suatu keadaan tertentu. Bila kita mengerjakan sesuatu atau mengatakan sesuatu, kita harus megetahui kebenaran adalah cara yang mudah untuk mencapai tujuan akhir.
- Pikiran jangan sampai dinodai oleh perasaan buruk,
- lidah jangan sampai dikotori oleh hal yang tidak benar,
- badan jangan sampai dicemari oleh kekerasan.
Kita harus hati-hati bila mengatakan sesuatu walaupun itu benar. Tentu kita harus mengatakan yang benar, tetapi harus hati-hati jangan sampai terus bicara dan menyakiti orang lain.
Kendalikanlah lidah kita masing-masing ! Bila terjadi salah pengertian dengan orang lain, bila kita mengatakan segala kekurangannya dengan pertimbangan bahwa kita mengatakan apa adanya, maka di kemudian hari pasti akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kita tidak boleh membenci orang lain. Bila kita membina cinta kasih, masalah kebencian dan iri hati tidak akan timbul. Bila hati kita memiliki kasih, perkataan kita akan lemah lembut. Andaikatapun timbul marah, hal itu tidak akan berlangsung lama.
Ada empat macam manusia.
- Kemarahannya yang bersifat satwik hanya berlangsung beberapa saat, lalu segera reda. Menurut Weda, orang yang seperti itu adalah orang yang berjiwa besar.
- Jenis kedua adalah orang yang amarahnya berlangsung beberapa menit dan cepat reda.
- Jenis ketiga adalah orang yang marahnya sepanjang hari.
- Jenis keempat adalah orang yang amarahnya berlangsung seumur hidup.
- Kemarahan orang baik ibarat menulis di atas air, sama sekali tidak berbekas.
- Kemarahan orang jenis kedua seperti menulis di pasir, suatu waktu tulisan itu akan terhapus.
- Kemarahan orang jenis ketiga seperti menulis pada batu. Dalam jangka waktu lama tulisan itupun akan terkikis.
- Tetapi kemarahan orang jenis ke empat seperti menulis pada lempengan baja, tulisan itu tidak akan hilang kecuali jika baja tersebut dicairkan dan dicetak kembali. Hanya bila baja itu kita masukkan ke dalam api maka tulisan pada logam itu akan lenyap; hanya melalui proses perubahan yang keras kita dapat mengubahnya.
Hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan sehari-hari dapat ditemukan dalam Weda. Tidak mungkin kita dapat mengambil seluruh ajaran yang terdapat dalam Weda dan mengamalkannya.
Tetapi kita dapat mengambil ajaran-ajaran yang langsung dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang dan mengamalkannya sehingga kita dapat memperoleh manfaat langsung dari ajaran-ajaran itu dan dengan demikian maju menuju tujuan spiritual.
Untuk mencapai tujuan hidup yang damai, sejahtra dan bahagia tidak ada jalan lain selain mengikuti petunjuk weda, karena hanya weda yang memiliki kebenaran tertinggi yang kekal abadi [sanatana dharma] dan juga kebenaran yang abadi itu dapat diterapkan di dalam ruang dan waktu yang berubah-ubah [anutana].
Ini berarti bahwa sanatana dharma bisa diterapkan sesuai dengan keberadaan ruang [bhuta] dan waktu [kala], karena keberadaan ruang atau alam dan penghuni alam termasuk manusia ini sangatlah bervariasi.
Agar sukses mencapai tujuan [dharma sidhiartha] hidup hendaknya pelaksanaan kebenaran veda itu didasari atas lima pertimbangan, yaitu;
- kebenaran yang hakiki [tatwa],
- kemampuan [sakti],
- aturan kerohanian setempat [desa],
- pandangan dan tujuan hidup seseorang [iksa], dan
- waktu [kala].
Ada beberapa jalan bagi setiap umat untuk memperoleh kasih Tuhan, baik yang dilakukan secara berkelompok [keluarga, perkumpulan profesi, desa pekraman, dan pemeluk sekte atau agama tertentu] maupun secara individu seperti;
- jalan bhakti,
- jalan upacara dan karma yadnya,
- jalan ilmu pengetahuan,
- jalan penghayatan, dan
- jalan kemegahan.
Sebaiknya jangan pembiayaan untuk meraih kasih Tuhan dibebankan kepada fihak lain seperti penyelenggaraan upacara yadnya atau membangun tempat suci dengan cara meminta-minta sumbangan seperti melakukan penjualan kupon kuliner ataupun dengan cara penggalian dana melalui penyelenggaraan judi seperti sabungan ayam.
Sebab masing-masing orang atau masing-masing kelompok juga memiliki kewajiban dan cara mereka masing-masing untuk meraih kasih Tuhan.
Weda yang disusun dalam bentuk wiracerita atau yang lebih dekenal dengan Epos Mahabharata oleh Bhagawan Byasa.
Meninjau Tentara-tentara Perang di Kurusetra.
Ringkasan Bhagawad-Gita.
Karma Yoga
BAB IV Pengetahuan Rohani.
Perbuatan dalam Kesadaran Ilahi.
Meditasi Mengendalikan Pikiran dan Indria ( Dyana Yoga ).
Pengetahuan Tentang yang Mutlak.
Cara Mencapai Tuhan yang Mahakuasa.
Pengetahuan yang Paling Rahasia.
Kehebatan Tuhan yang Mutlak ( Wibhuti Yoga ).
Bentuk Alam Semesta ( wiswa rupa dharsana yoga ).
Pengabdian Suci ( bhakti yoga ).
Alam, Kepribadian yang Menikmati dan Kesadaran.
Tiga Sifat Alam Material.
Yoga Berhubungan dengan Kepribadian yang Paling Utama.
Sifat Rohani dan Sifat Jahat.
Golongan Keyakinan.
Kesempurnaan Pelepasan Ikatan.
SARASAMUCAYA
Kitab saraccamuscaya adalah ringkasan dan cara mengaplikasikan ajaran Bhagawad-gita pada kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat, yang ditulis dengan bahasa Kawi oleh Bhagawan Wararuci, seorang guru Spiritual.
- SARASAMUSCAYA
- I PRAKATA
- II DASAR DAN TUJUAN HIDUP
- III. KEAGUNGAN DHARMA [KEBAJIKAN]
- IV PERIHAL SUMBER DHARMA [KEBAJIKAN]
- V PERIHAL PELAKSANAAN DHARMA
- VI PRIHAL CATUR WARNA [EMPAT GOLONGAN PROFESI]
- VII PERIHAL KEMARAHAN
- VIII PERIHAL ORANG TANPA KEPERCAYAAN [NASTIKA]
- IX PERIHAL SATYAWACANA [SETIA PADA KATA-KATA]
- X PERIHAL AHIMSA [TIDAK MEMBUNUH-BUNUH]
- XI PERIHAL SATEYA [TIDAK MENCURI]
- XII PERIHAL PERBUATAN SUSILA
- XIII PERIHAL DANA PUNIA [SEDEKAH]
- XIV PERIHAL PERGAULAN HIDUP
- XV PERIHAL PERBUATAN TERPUJI
- XVI PERIHAL HARTA BENDA
- XVII PERIHAL ORANG BERILMU DAN BERBUDI
- XVIII PERIHAL ORANG DURJANA
- XIX PERIHAL HUKUM KARMA
- XX PERIHAL KEKUASAAN MAUT
- XXI PERIHAL TUMIBAL LAHIR [SAMSARA]
- XXII PERIHAL KEBODOHAN
- XXIII PERIHAL KAMA [NAFSU] DAN PEREMPUAN NAKAL
- XXIV PERIHAL TRESNA [KEHAUSAN CINTA]
- XXV PERIHAL KELOBAAN
- XXVI PERIHAL IKATAN CINTA KASIH
- XXVII PERIHAL ORANG BIJAKSANA