Perbuatan Baik Akan Menyatukan Jiwa dengan Tuhan

Moksa adalah tujuan tertinggi Agama Hindu yakni bersatunya kembali atman dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagi sumber hidupunya. Bersatunya atman dengan Tuhan Yang Maha Esa merupakan kebahagiaan sejati.

Jika kita mengambil setetes air dari lautan dan menaruhnya di telapak tangan, air itu akan kelihatan amat sedikit dibandingkan dengan air samudra. Tetapi, jika air yang setetes itu dikembalikan ke samudra, air tersebut akan menjadi bagian dari samudra yang mahaluas.

Tuhan maha besar tak terhingga. Di alam semesta ini tak ada yang lebih besar daripada beliau. Tetapi weda mengatakan bahwa kekuatan yang maha besar itu akan dapat di kurung di dalam hati dengan cinta kasih.

Moksa adalah kebebasan, moha adalah keterikatan. Selama kita masih menderita keterikatan moksa tidak mungkin dapat dicapai. Selama kita memiliki kekaburan batin, kita tetap dalam keadaan terbelenggu.

Moksa bukan kesenangan duniawi. Moksa bukan rumah mewah yang kamarnya ber-AC, moksa bukan makanan mewah yang enak, melainkan adalah penghancuran keterikatan dan kekaburan batin.

Moksa adalah penghancuran seluruh kekaburan batin dan keinginan duniawi. Penghancuran seluruh kekaburan batin dan keinginan duniawi hanya dapat dilakukan jika kita memiliki pengetahuan spiritual yang sejati, pengetahuan adikodrati [jnana].

Jnana adalah kebijaksanaan, ia berarti penghayatan kesatuan, pengalaman yang esa tiada duanya. Orang yang bijaksana adalah orang yang telah memiliki sifat-sifat bijaksana, yaitu memiliki kemampuan untuk menanggapi atau menerima dua hal yang berbeda seperti; kesenangan dan kesedihan, panas dan dingin, laba dan rugi, penghormatan dan penghinaan, dengan pikiran yang seimbang, dan tetap teguh dalam kesadaran dirinya yang sejati.

Bila kita mengetahui sifat indera yang sesungguhnya akan mudah bagi kita mengikuti jalan untuk menjadi orang yang benar-benar bijaksana. Tetapi jika kita selalu menyamakan diri kita dengan badan dan tidak menyamakan diri kita dengan atma, akan amat sulit memang kita untuk mencapai keadaan yang mulia itu.

Bergumul dengan benda-benda duniawi saja  akan menyebabkan kesengsaraan yang tiada habisnya. Jika kita mendasarkan pengalaman kita hanya pada pengetahuan duniawi, kita akan menderita atau menikmati semua akibat pengetahuan tersebut.

Dalam pengetahuan duniawi selalu akan ada reaksi, pantulan, dan gema. Apapun yang kita pikirkan akan berbalik kembali kepada kita, apapun yang kita katakan akan berbalik kembali kepada kita, dan apapun yang kita lakukan akan berbalik kembali kepada kita.

Hal di atas dapat kami berikan ilustrasi seseorang yang bekerja untuk mendapatkan uang, dia tidak hanya berhenti pada ketika setelah uang didapatkannya. Dengan uang yang dimiliki dia memiliki keinginan untuk memiliki mobil, dengan mobil yang dimiliki dia harus memiliki garase untuk menyimpan mobil supaya terlindung dari panas ataupun hujan. Disamping itu dia harus menyediakan uang lagi untuk membeli bahan bakar ataupun pajak kepemilikan mobil setiap tahun, begitu juga seterusnya.

Di dalam alam spiritual tidak ada reaksi, tidak ada pantulan, dan tidak ada gema. Di sana hanya ada pengetahuan adikodrati, yaitu pengetahuan sejati. Di dalam alam itu tidak kita temukan benda-benda yang dapat bereaksi, tidak ada yang dapat memantulkan atau menggemakan karena di sana tidak ada yang lain.

Di sana semuanya satu. Kalau ada wujud yang kedua pasti akan ada keinginan untuk memilikinya atau menjauhinya, dengan kata lain, akan ada perasaan ingin atau perasaan takut.

Tetapi bila kita berada sepenuhnya dalam pengetahuan kesunyataan kita tidak akan menghayati apapun, atau siapapun lainnya, tidak akan ada yang kedua. Maka tidak akan timbul keinginan atau ketakutan.

Keadaan seperti itu dapat disebut kebijaksanaan, pengetahuan yang tertinggi. Dalam keadaan yang amat mulia itu kita tidak melihat apa-apa dan tidak mendengar apa-apa. Kita hanya merasakan kebahagiaan yang amat mendalam. Inilah yang disebut kebahagiaan abadi, yaitu sat-chit-ananda [moksa].

Untuk bisa mempercepat masuk ke dalam perasaan keadaan yang bahagia hendaknya kita mencoba berusaha untuk meninggalkan pengumpulan kekayaan atau harta benda sebagai tujuan hidup. Kalau pengumpulan kekayaan dijadikan sebagai tujuan hidup itu berarti kita telah menetukan tujuan hidup yang sangat rendahan, karena masih ada tujuan hidup yang jauh lebih tinggi yaitu kedamain, kesejahtraan, dan kebahagiaan.

Pengumpulan kekayaan sebagai tujuan hidup akan cendrung mengarahkan orang untuk berbuat dengan menghalalkan segala cara, mengabaikan etika, dan tidak peduli dengan kepentingan orang lain dan lingkungannya, karena mereka tidak banyak punya pilihan. Kalau tidak kaya akan merasa bahwa ia sudah gagal dalam hidupnya.

Di samping itu  kaya itu sangat relatif, cendrung tidak akan tercapai, karena jika orang sudah memiliki sepeda motor ingin memiliki mobil, sudah memiliki mobil ingin memiliki rumah mewah, sudah memiliki rumah mewah ingin memiliki hotel dan begitu seterusnya sehingga tujuannya cendrung merasa tidak pernahtercapai.

Hendaknya kekayaan jangan dijadikan tujuan, tetapi jadikanlah sebagi alat untuk mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi, yaitu damai, sejahtra, dan bahagia.

Damai sejahtra, dan bahagia sebagai tujuan hidup akan memberikan banyak pilihan, sehingga orang tidak mau berjibaku dalam hal-hal tertentu untuk berebut dengan orang lain. Karena jika seseorang sudah masuk dalam keadaan damai, sejahtra, dan bahagia, ia tidak akan membutuhkan yang lain lagi, karena tujuan hidupnya yang tertinggi sudah terapai. Hal di atas dapat dicontohkan dengan dua orang yang datang ke airport Denpasar untuk membeli tiket pesawat Garuda yang terbang tujuan Jakarta.  Seorang membeli tiket dengan tujuan ingin  merasakan nyamannya naik pesawat Garuda dari Denpasar menuju Jakarta. Seorang lainnya lagi membeli tiket Garuda dengan tujuan supaya dapat menikmati gemerlapnya kota jakarta.

Orang pertama akan cendrung berjibaku atau menghalalkan segala cara agar dapat membeli tiket Garuda, karena ia tidak memiliki pilihan lain lagi, jika tidak dapat tiket Garuda, ia tidak akan bisa merasakan nyamannya naik pesawat garuda tujuan Jakarta. Sedangkan orang yang kedua tidak akan mau dipusingkan oleh karena dapat atau tidaknya membeli tiket garuda, karena ia bisa membeli tiket pesawat lain yang tujuan Jakarta, karena memang tujuannya adalah datang di Jakarta, bukan naik pesawat Garuda.

Keadaan yang damai, sejahtra, dan bahagia akan lebih mudah dicapai jika kita secara bersama-sama memiliki kemauan yang kuat dan ketulusan untuk membangun kelestarian lingkungan [bhuta hita], kesejahtraan masyarat [jagat hita], dan manusia individu yang bahagia [jana hita].   

Rgveda I.10.2
Sanghyang Indra [Tyhan Yang Maha Esa] memelihara/menjaga penyembah yang mendaki sebuah puncak kepuncak yang lainnya dan menyelesaikan kegiatan-kegiatan yang bermacam-ragam. Sanghyang indra [Tuhan Yang Maha Esa] datang dengan semua kekuatan-Nya pada waktu yang tepat,

Rgveda X.154.2
Wahai umat manusia, pergilah menghadap orang-orang suci itu [pertapa-pertapa], yang tak terkalahkan dan yang berbahagia karena pengekangan diri dan disipln hidup mereka,

Atharwaveda VII.61.2
Ya Agni [Tuhan yang Maha Esa], kami melaksanakan tapa [pengekangan diri] yang bersifat batiniah [mental] dan jasmaniah [fisik]. Semoga kami mencapai usia panjang dan menjadi cerdas dengan mempelajari Weda,

Atharwaveda VIII.3.13
Ya Tuhan Yang Maha Esa, semoga Engkau menghapus niat-niat yang buruk dengan tapa [pengekangan diri],

Yayurveda XXVI.15
Orang yang bermeditasi/bersemedhi pada lereng pegunungan atau di pertemuan sungai-sungai, menjadi tercerahkan,

Atharwaveda X.2.27
Kepala seorang suci adalah perbendaharaan [harta benda] dari kekuatan-kekuatan kedewataan yang bertumpuk-tumpuk,

Atharwaveda X.2.26
Seorang suci membuat keserasiannya kepala dan hati. Kemudian, dia menaikan udara-udara vital ke arah atas dan memeras udara-udara itu dalam kepala untuk mencapai tujuannya,

Atharwaveda IV.11.6
Dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa orang-orang yang bijaksana, sesudah kematian memperoleh keselamatan, yang mencapai pusat nectar [minuman dewata] yakni kebahagiaan sejati. Semoga kami yang berkeinginan kemasyahuran, juga mencapai kekekalan itu, melalui pelaksanaan pertapaan yang keras dan menjalankan janji [brata],


Atharwaveda XIX.43.8
Semoga Tuhan Yang Maha Esa membawa kami ke tempat tinggal sorgawi di tempat Tuhan Yang Maha Esa yang mengetahui orang-orang untuk mencapai [sampai] melalui pengabdian [diri] dan pertapaan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa menganugrahkan pengetahuan kepada kami,

Atharwveda IV.35.2
Para Dewa, para pembuat kesejahtraan manusia, mengatasi kemaian dengan mengetahui Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung. Pengetahuan itu diperoleh melalui pertapaan dan kedisiplinan hidup,

Rgveda X.167.1
Indra, Engkau melaksanakan tapa dan memenangkan eorga,

Atharwaveda XI.8.2
Tapa dan keteguhan hati adalah satu-satunya juru selamat di dunia yang mengerikan,

Rgveda IX.83.1
Orang tidak bisa menyadari Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung tanpa melaksanakan tapa,

Yayurveda XI.14
Dia yang mengetahui kedua jalan yaitu jalan kebijaksanaan dan perbuatan-perbuatan [tindakan], yang menyebrangi kolam-kematian melalui perbuatan [tindakan] mencapai keselamatan dengan sarana kebijaksanaan,

Yayurveda XI.11
Dia yang mengetahui kedua-dua jalan spiritual [kerohanian] dan materialisme [kebendaan], mencapai keselamatan melalui spiritualisme [kerohanian],

Atharwaveda XX.115.1
Kami mencapai pengetahuan yang sifatnya intuisi dengan kemurahan Tuhan Yang Maha Esa dan kami menjadi cemerlang bagaikan matahari,

Yayurveda VIII.52
Kami mencapai pengetahuan yang dalam dan menjadi kekal [abadi],


Atharwaveda XVII. 1.19
Jiwa yang tak bisa dihancurkan berdiam di dalam tubuh manusia yang bisa dihancurkan, dan keseluruhan alam semesta berada di dalam Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung yang tak bisa di hancurkan [abadi],

Rgveda I.164.16
Tuhan Yang Maha Esa disadari oleh orang-orang yang punya penglihatan
[ ilmu pengetahuan] dan tidak oleh orang-orang yang buta [dungu],

Rgveda X.114.4
Kami membayangkan [memvisualisasikan] Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung dengan [melalui] pikiran yang murni [suci],

Rgveda I.164.23
Orang-orang yang mengetahui Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung, mencapai keabadian [kekekalan],

Rgveda IX.113.2
Tuhan Yang Maha Esa disadari melalui berbicara, yang benar, kejujuran, kepercayaan, dan kedisiplinan hidup,

Rgveda VII.59.12
Ya Tuhan Yang Maha Esa, bebaskanlah kami dari ikatan kematian dan berkahilah dengan kekekalan,

Rgveda I.22.20
Orang-orang yang bijak membayangkan [memvisualisasikan] tempat kediaman tertinggi dari Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung,

Atharwaveda XX.92.18
Tak seorangpun bisa mencapai Tuhan Yang Maha Esa yang Agung melalui tindakan/perbuatan. Dia dibayangkan [divisualisasikan] dengan sarana ilmu pengetahuan,

Atharwaveda VII.8.1
Semoga engkau lebih menyukai jalan kerohanian [spiritual] daripada jalan keduniawian [meterialisme],
Weda yang disusun dalam bentuk wiracerita atau yang lebih dekenal dengan Epos Mahabharata oleh Bhagawan Byasa.
Meninjau Tentara-tentara Perang di Kurusetra.
Ringkasan Bhagawad-Gita.
Karma Yoga
BAB IV Pengetahuan Rohani.
Perbuatan dalam Kesadaran Ilahi.
Meditasi Mengendalikan Pikiran dan Indria ( Dyana Yoga ).
Pengetahuan Tentang yang Mutlak.
Cara Mencapai Tuhan yang Mahakuasa.
Pengetahuan yang Paling Rahasia.
Kehebatan Tuhan yang Mutlak ( Wibhuti Yoga ).
Bentuk Alam Semesta ( wiswa rupa dharsana yoga ).
Pengabdian Suci ( bhakti yoga ).
Alam, Kepribadian yang Menikmati dan Kesadaran.
Tiga Sifat Alam Material.
Yoga Berhubungan dengan Kepribadian yang Paling Utama.
Sifat Rohani dan Sifat Jahat.
Golongan Keyakinan.
Kesempurnaan Pelepasan Ikatan.

SARASAMUCAYA

Kitab saraccamuscaya adalah ringkasan dan cara mengaplikasikan ajaran Bhagawad-gita pada kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat, yang ditulis dengan bahasa Kawi oleh Bhagawan Wararuci, seorang guru Spiritual.

Postingan populer dari blog ini

Anda Akan Lebih Percaya Diri dan Berani Jika Baca Kata-kata Ini

Promosi Unik dan Kretif untuk Bisnis

Hukum Karma Berjalan Secara Outopilot