Agama adalah satu-atunya saat ini yang diyakini dapat menuntun umat manusia untuk mencapai kesempurnaan menuju kesucian batin, laksana, dan budi pekerti serta kebahagiaan yang kekal abadi, suka tan pewali duhka.
Dalam bahasa Sansekerta diformulasikan sebagai Moksartham Jagathita ya ca iti Dharma.
Tujuan agama adalah untuk mencapai kesejahtraan jasmani (jagadhita) dan ketentraman batin atau kelepasan (moksa) yang dapat membebaskan jiwa dari keterikatan duniawi atau benda material.
Manusia ketika mengarungi bahtra kehidupan sering disesatkan oleh kegelapan, kabut kebodohan, dan ketidaksadaran yang sering menimbulkan nafsu serakah membabi buta, yang mengakibatkan penderitaan, dan kesengsaraan dalam hidupnya.
Untuk menuntun manusia agar tidak terjerumus ke dalam lembah penderitaan dan kesengsaraan itulah Tuhan mewahyukan ajaran kerohaniaan yang di Indonesia disebut Agama.
Agama yang di dalam ajaran hindu disebut dharma itulah yang dapat menyalakan api penerangan kebijaksanaan, dan kesadaran untuk mencapai hidup yang damai, sejahtra dan berbahagia.
Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan agama ke dunia bukan untuk kepentingannya sendiri hendak dipuji-puji dan diagung-agungkan oleh umat manusia.
Beliau mewahyukan ajaran agama melalui perantara para Rsi, dan para Nabi bukan mengharap sanjungan dan pujian dari umat.
Tuhan pencipta Yang Maha Agung, yang sempurna segala-galanya tidak pernah gelisah hendak dipuja dan disanjung-sanjung.
Sedangkan manusia biasa yang berbuat sesuatu karena masih mengharap untuk disanjung dan dipuji dikatakan tidak bijaksana.
Tuhan menurunkan ajaran agama ke dunia untuk menuntun tingkah laku umat manusia agar bisa hidup damai, sejahtra, dan berbahagia.
Ada banyak agama di dunia ini, masing-masing penganut agama mempunyai pandangan yang berbeda-beda mengenai kebenaran tentang Tuhan, dan begitu juga cara memperlakukannya.
Mengapa mereka memiliki pandangan yang berbeda-beda ?
Apakah Tuhan yang dipercayai oleh penganut suatu agama tertentu memang berbeda dengan Tuhan yang diyakini oleh penganut suatu agama yang lainnya ? Mungkinkah alam semesta yang begitu amat luas ini beserta isinya diciptakan dan dikuasai oleh banyak Tuhan?
Weda memberikan jawaban yang sangat lengkap terhadap pertanyaan di atas.
Tuhan yang Maha Esa di dalam Weda disebut Dewa, digambarkan memiliki ribuan wujud, sekaligus juga diberikan ribuan nama, dan sebagai tri-kona yaitu; Pencipta [utpeti], Pemelihara [stiti], dan sekaligus sebagai Pelebur [pralina], atau di dalam bahasa Ingris disebut Generator, Operator, dan Distroyer yang disingkat menjadi [GOD] yang artinya sama dengan Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur terhadap alam semesta beserta isinya.
Segala makhluk ciptaan Tuhan pasti akan mengalami ketiga peristiwa seperti yang disebutkan di atas, yaitu lahir, tumbuh berkembang, dan akhirnya mati.
Kekuasaan Tuhan tidak terhingga dan tidak terbatas. Ke-anekaragamannya sangat besar, seperti yang kita saksikan bila memandang jagat raya, semua diakibatkan oleh maya atau ilusi.
Bagian jagat raya yang kasat mata manusia ini hanya merupakan bagian yang teramat kecil dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang tidak terbatas.
Seluruh alam seakan-akan merupakan bagian kecil saja dari perwujudan Tuhan yang Mahakuasa. Apalagi wujud seorang manusia betapa kecilnya kalau dibandingkan dengan perwujudan Tuhan yang Maha Esa.
Tidak mungkinlah manusia mampu memahami kebesaran Tuhan secara menyeluruh.
Beliau memenuhi seluruh jagat raya, baik yang kasat mata maupun yang halus. Tidak ada tempat tanpa kehadirannya.
Alam ini adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu kita harus berusaha mengerti prinsip tata alam ini.
Bulan terletak ratusan ribu kilometer dari bumi. Matahari berjarak ratusan juta kilometer, sedangkan bintang yang terdekat berjuta-juta kilometer letaknya; dan melampaui itu, dalam alam yang lebih jauh lagi yang masih dapat dilihat, masih ada bintang-bintang yang sebesar bumi yang jumlahnya miliyaran dan jaraknya miliaran kali lebih jauh lagi.
Bagian jagat raya yang kasat mata ini, yang demikian luas, hanya merupakan bagian yang terkecil dari alam halus atau alam mental. Dalam alam yang halus ini, alam kasat mata yang kita ketahui hanya bagaikan sebuah atom yang amat kecil.
Tetapi, alam halus yang tak terhingga luasnya jika dibandingkan dengan alam yang kasat mata, hanya merupakan bagian yang amat kecil dari alam yang jauh lebih luas yang disebut alam kausal.
Disebut demikian, karena dari bagian alam yang sangat halus inilah timbul jagat yang kasat mata dan yang halus.
Ketiga alam ini yaitu yang kasat mata atau fisik, yang halus atau mental, dan yang kausal, tak terhingga besarnya.
Sehingga kitab suci Weda menyatakan hal itu tidak mungkin dapat dimengerti oleh pikiran manusia atau dijelaskan dengan kata-kata secara menyeluruh walaupun oleh seluruh orang Timur Tengah, Eropa, Amerika, maupun seluruh orang Asia.
Hal itu berada diluar kemampuan daya khayal dan diluar jangkauan akal manusia untuk memahaminya secara menyeluruh.
Kebenaran yang demikian agung tidak mungkin dapat dimengerti oleh manusia biasa.
Tuhan Yang Maha Esa melampaui ketiga alam ini; yang kasat mata, yang halus maupun yang kausal.
Walaupun demikian sebagai Yang Mahakuasa, beliau menguasai seluruh alam tersebut. Beliau juga menguasai waktu yang telah lampau, yang sekarang, dan yang akan datang.
Manusia dikaruniai kemampuan yang amat terbatas, dan mungkin sulit bagi kita untuk memahami prinsip yang suci ini.
Oleh karena itu sangatlah wajar berbagai kelompok masyarakat yang mendiami bumi [dari berbagai negara dan benua] ini tidak mampu menyamakan persepsi tentang ajaran kebenaran Tuhan Yang Maha Esa yang Mahakuasa ini.
Bagaikan sekelompok orang buta yang ingin memberi pandangan tentang seekor gajah. Masing-masing orang buta hanya bisa menyentuh sebagian kecil dari seluruh bentuk tubuh gajah.
Orang buta yang menyentuh kaki gajah berpendapat bahwa gajah berbentuk tiang, orang buta yang menyentuh belalainya gajah berpendapat bahwa gajah berbentuk bulatan panjang, orang buta yang menyentuh perutnya gajah, berpendapat bahwa gajah berbentuk guci besar dan begitu juga seterusnya.
Setiap pendapat tentang gajah dari mereka adalah benar sesuai kemampuan mereka untuk menyentuh bagian kecil dari tubuh gajah yang lebih besar. Tetapi masing-masing dari mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberikan pendapat tentang bentuk tubuh gajah secara keseluruhan.
Begitu pula halnya setiap orang ataupun kelompok orang karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki tidaklah mungkin bisa memahami ke-maha-besaran Tuhan secara menyeluruh.
Oleh karena itu kalau kita baru tahu tentang Tuhan hanya sebagian kecil saja hendaknya jangan buru-buru menyatakan bahwa pemahaman orang lain tentang Tuhan salah, sebaiknya pemahaman orang lain dijadikan tambahan informasi untuk mengetahui Tuhan yang lebih luas.
Segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Seluruh alam semesta ini berada di dalam tubuh-Nya. Demi kepuasan manusiawi, pemujanya memberikan nama dan wujud kepada Tuhan.
Tetapi sesungguhnya beliau tidak berwujud sama sekali. Namun, beliau mengambil suatu wujud sehingga pemuja-Nya dapat memuja-Nya, mengagumi-Nya, berbhakti dan mencintai-Nya dan dengan demikian memenuhi cita-cita spiritual pemuja-Nya.
Untuk kepuasan pemuja-Nya sendirilah mereka memberi nama serta wujud kepada Tuhan dan menggunakan hal ini untuk memuja-Nya. Apapun juga wujud Tuhan yang dipilih dan diikuti, semua yang memuja-Nya dengan hati yang penuh kasih akan dikenang selamanya.
Tuhan ada di mana-mana, tetapi tanpa bantuan nama dan wujud, pemujanya tidak dapat memahaminya yang tidak bersifat dan berwujud itu.
Tuhan memang tidak berwujud, tetapi sebelum kita mampu mencapai kesadaran itu, kita harus mengembangkan cinta dan bhakti kepada Tuhan dengan nama dan wujud.
Karena itu, mula-mula kita menempuh jalan bhakti pada jenjang yang terendah dan memuja Tuhan dengan nama dan wujud.
Kemudian secara berangsur-angsur kita meningkat ke tahap yang lebih tinggi. Kita mengalihkan pikiran dan perasaan dari dunia lahiriah dan memuja yang tidak berwujud hingga akhirnya kita menyadari kesunyataan kita sendiri.
Ketika siswa duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, mereka belajar menghitung bilangan dengan bantuan wujud batu kerikil, ketika kemampuan menghitung mereka sudah meningkat, mereka menggunakan lambang bilangan berupa angka.
Sudah tentu batu kerikil dan lambang bilangan tidak diperlukan lagi ketika kemampuan menghitung mereka sudah mencapai tingkat mahir.
Begitu juga halnya kita memuja Tuhan harus melalui proses yang bertahap untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, yaitu mulai dari memuja Tuhan yang berwujud dan berangsur- angsur meningkat memuja Tuhan yang tanpa wujud.
Landasan filosofi yang dipakai pedoman untuk memahami keberadaan Tuhan Yang Maha Esa adalah beberapa mantra-mantra weda seperti di bawah ini;
Atharvaveda IV.1.1
Tuhan Yang Maha Esa adalah yang pertama-tama yang ada di alam semesta.
Atharvaveda X.2.25
Tuhan yang Maha Esa menciptakan alam semesta ini. Tuhan Yang Maha Esa menempatkan langit ini di atasnya. Tuhan Yang Maha Esa menempatkan wilayah tengah yang luas ini di atas dan di jarak lintas,
Atharvaveda X.2.23
Tuhan yang Maha Esa bersemayam dan berwujud sebagai para dewa. Tuhan Yang Maha Esa, bersemayam pada media-media yang suci. Tuhan yang Maha Esa adalah abadi [tak terhancurkan] dan dia adalah pelindung yang ulung,
Atharvaveda IV.1.1
Tuhan Yang Maha esa memperlihatkan keaslian segalanya apakah terwujudkan atau tidak terwujudkan,
Atharvaveda XX.121.1
Tuhan Yang Maha Esa adalah kebahagiaan. Beliau juga penguasa dari yang bernyawa dan yang tidak bernyawa,
Atharvaveda IX.9.21
Tak seorangpun mencapai kebahagiaan tanpa mengetahui Tuhan Yang Maha Esa bagaikan ayah,
Atharvaveda VIII.9.3
Orang yang bijaksana mengetahui Tuhan Yang Maha Esa dengan sarana penebusan dosa,
Atharvaveda II.1.1
Orang bijaksana yang suci membayangkan [memvisualisasikan] Tuhan Yang Maha Esa yang berdiam di dalam hati,
Yayurveda X.23
Tuhan Yang Maha Esa adalah suci [bersih] bagaikan angsa. Beliau berdiam di dalam orang-orang yang berbudi. Beliau ada di wilayah tengah bagaikan para Dewa Vasu. Beliau bagaikan orang yang menghaturkan persembahan [sesaji], yang duduk di tempat-tempat pemujaan [altar]. Beliau bagaikan tamu yang beristirahat di sebuah rumah,
Rgveda 1.50.10
Tuhan Yang Maha Esa adalah cahaya yang tertinggi, sang terang yang Tertinggi yang bersinar seperti matahari. Beliau adalah kemuliaan para Dewa,
Rgveda I.164.46
Tuhan Yang Maha Esa adalah tunggal. Para bijak menyebut beliau dengan nama-nama yang berbeda. Mereka menyebut beliau: Agni [api], yama [sang pengawas alam semesta], dan martiswam [udara],
Yayurveda XXXII.1
Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung memiliki berbagai nama. Beliau dinamakan Agni [api], Aditya [matahari], Vayu [udara], Candramas [bulan], Sukra [cahaya], Brahman [makhluk teragung], Apah [yang meliputi semua zat cair], Prajapati [Dewa semua mahluk],
Yayurveda XVII.27
Tuhan Yang Maha Esa adalah satu [tunggal] beliau dinamakan dengan nama-nama yang berbeda-beda,
Atharvaveda XIII.3.17
Ada satu Tuhan Yang Maha Esa yang Agung yang bercahaya. Beliau bersinar dalam bentuk yang berbeda-beda,
Atharvaveda XIII.4.16
Tuhan Yang Maha Esa tidak dipanggil yang kedua, juga tidak yang ketiaga, maupun yang keempat,
Atharvaveda XIII.4.20
Tuhan Yang Maha Esa adalah satu dan hanya tunggal [esa],
Atharvaveda XIII.4.21
Semua para Dewa menjadi satu di dalam-Nya,
Atharvaveda XIII.4.45
Semua bentuk yang tak terkira banyaknya dihubungkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung,
Atharvaveda XIII.4.25
Tuhan Yang Maha Esa adalah penguasa kematian dan Tuhan Yang Maha Esa adalah kekekalan,
Atharvaveda XIII.4.5
Tuhan Yang Maha Esa adalah Agni [api], Surya [matahari], dan Maha yama [Dewa Kematian],
Atharvaveda XIII.4.4
Tuhan Yang Maha Esa adalah Aryaman, Varuna, Rudra, dan Mahadewa,
Atharvaveda XVII.1.18
Tuhan Yang Maha Esa, engkau adalah Indra dan Mahendra,
Rgveda VIII.1.3
Tuhan Yang Maha Esa : umat manusia pada waktu keadaan darurat, memohon kepada-Mu dengan beranekaragam untuk keselamatan mereka semoga doa-doa kami memuliakan Engkau terkabulkan,
Atharwaveda VIII..25
Setiap orang termasuk sapi-sapi betina, kuda-kuda, manusia, dan binatang, hidup berbahagia, Tuhan Yang Maha Esa Yang Maha Agung disembah dengan teguh untuk kemakmuran semuanya,
Rgveda I.164.20
Tuhan Yang Maha Esa hanya menyaksikan tindakan-tindakan [perbuata-perbuatan] dari semuanya. Beliau tidak mengalami akibat-akibat dari suatu tindakan-Nya itu,
Yayurveda XXXII. 3
Tuhan Yang Maha Esa tidak memiliki gambar [image],
Yayurveda XXXI.18
Hanya mengenal/mengetahui Tuhan Yang Maha Esa, orang mencapai keselamatan,
Atharwaveda X.7.35
Tuhan Yang Maha Esa yang menyokong langit dan bumi kedua-duanya. Beliau juga menggenggam atmosfir [lapisan udara yang meliputi bumi] yang luas ini,
Atharwaveda X.7.36
Tuhan Yang Maha Esa meliputi alam-semesta ini,
Atharwaveda X.8.1
Tuhan Yang Maha Esa ada di mana-mana, baik di masa lampau, di masa kini, maupun di masa yang akan datang. Beliau berbahagia sepenuhnya. Kami menghaturkan persembahan [korban] ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung itu,
Atharwaveda X.7.20
Rgveda dan Yayurveda berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Samaveda adalah rambut-Nya dan Atharvaveda adalah mulut-Nya,
Atharwaveda X.8.29
Alam semesta yang sempurna berasal dari Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Sempurna. Alam yang sempurna ini diberi makan oleh Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Sempurna,
Atharwaveda X.7.10
Segalanya baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud ada di dalam Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung,
Atharwaveda X.8.37
Tuhan Yang Maha Esa yang mengetahui benang yang saling berhubungan dari alam-semesta, mengenal Tuhan Yang Maha Esa yang Maha agung,
Atharwaveda X.8.11
Tuhan Yang Maha Esa adalah inti [permulaan] alam-semesta dan segalanya, yang dilarutkan, menjadi seragam dengan beliau,
Atharwaveda X.7.36
Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung disadari dengan ketekunan dan penebusan dosa,
Atharwaveda X.8.18
Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Agung bergerak mengawasi alam-semesta,
Weda yang disusun dalam bentuk wiracerita atau yang lebih dekenal dengan Epos Mahabharata oleh Bhagawan Byasa.
Meninjau Tentara-tentara Perang di Kurusetra.
Ringkasan Bhagawad-Gita.
Karma Yoga
Perbuatan dalam Kesadaran Ilahi.
Meditasi Mengendalikan Pikiran dan Indria ( Dyana Yoga ).
Pengetahuan Tentang yang Mutlak.
Cara Mencapai Tuhan yang Mahakuasa.
Pengetahuan yang Paling Rahasia.
Kehebatan Tuhan yang Mutlak ( Wibhuti Yoga ).
Bentuk Alam Semesta ( wiswa rupa dharsana yoga ).
Pengabdian Suci ( bhakti yoga ).
Alam, Kepribadian yang Menikmati dan Kesadaran.
Tiga Sifat Alam Material.
Yoga Berhubungan dengan Kepribadian yang Paling Utama.
Sifat Rohani dan Sifat Jahat.
Golongan Keyakinan.
Kesempurnaan Pelepasan Ikatan.
SARASAMUCAYA
Kitab saraccamuscaya adalah ringkasan dan cara mengaplikasikan ajaran Bhagawad-gita pada kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat, yang ditulis dengan bahasa Kawi oleh Bhagawan Wararuci, seorang guru Spiritual.